Presenter : Emerson C. Simbolon
Judul : A new Method for Enterprise Architecture
Assessment and Decision-making about Improvement or Redesign
Tanggal : 22
Maret 2012
Paper ini ditulis oleh Michael Rohloff dari University of Potsdam. Paper dipublikasikan di Wirtschaftinformatik
Proceedings pada tahun 2011.
Latar belakang dari paper ini adalah dalam proses Perencanaan Arsitektur Enterprise, arsitektur “As-Is” dipertimbangkan sebagai dasar arsitektur, dan arsitektur target dirancang berdasarkan hal ini. Namun, dalam beberapa enterprise, khususnya di negara-negara berkembang, arsitektur “as-is” bukanlah basis yang cocok untuk membuat arsitektur target. Oleh sebab itu direkomendasikan untuk redesign arsitektur organisasi dari pada improvement arsitektur organisasi.
Latar belakang dari paper ini adalah dalam proses Perencanaan Arsitektur Enterprise, arsitektur “As-Is” dipertimbangkan sebagai dasar arsitektur, dan arsitektur target dirancang berdasarkan hal ini. Namun, dalam beberapa enterprise, khususnya di negara-negara berkembang, arsitektur “as-is” bukanlah basis yang cocok untuk membuat arsitektur target. Oleh sebab itu direkomendasikan untuk redesign arsitektur organisasi dari pada improvement arsitektur organisasi.
Tujuan penulisan paper ini adalah bagaimana mengukur kapasitas dari kondisi “as-is”
dari suatu organisasi berdasarkan pada misi dan tujuan organisasi. Kemudian
bagaimana membuat keputusan atas kemajuan dan redesign organisasi tersebut.
Komponen utama dari arsitektur organisasi
adalah arsitektur “as-is”, arsitektur “to-be” dan rencana transisi yang
didesain untuk menkonversi “as-is” menjadi “to-be”.
Untuk mendesain rencana transisi, perlu
mendefinisikan kondisi “to-be”. Namun kondisi ideal “to-be” tidak dapat diperkenalkan
untuk improvement organisasi “to-be”
karena ketika kondisi “to-be” tersedia, mungkin saja ada status yang lebih baik
juga tersedia. Ini sebabnya maturity
arsitektur enterprise diperkenalkan.
Satu keuntungan penting dalam mendukung membuat keputusan
dalam sistem intelijen dan semi-intelijen adalah penggunaan sistem multi-agen.
Metode menggunakan arsitektur multi-agen ini dibagi ke dalam 4 agen tepisah dan
masing-masing agen dapat dibagi ke dalam sub-sub agen.
Penjelasan dari empat agen yang terpilih sebagai berikut:
A. Middleware
Agent
Agen ini bertugas
menawarkan interface untuk input dan mentransfer informasi ke dalam
basis pengetahuan yang un-concentrated yang dibutuhkan oleh agen lain.
B.
Rule Comparison Agent
Agen ini bertugas menggambarkan matriks relasional. Agen harus
menghubungkan tiap item pada setiap layer
ke item di layer yang lebih tinggi.
C.
Dynamic Analytical Agent
Agen ini bertugas menilai analitikal dan inti pembuatan keputusan dari
sistem dan terdiri dari sub-sub agen berikut:
• Autonomous
agent of top-down procedure,
•
Autonomous agent of bottom-up procedure usingthe output of lowest layer agent
in top-down agents,
• Agent of
Statistical threshold analysis,
• Agent of
analysis of the “nearest neighborhood” network,
• Agent of
analysis of the TOPSIS,
• Agent of the
cost-benefit analysis.
D. Knowledge
Discovery and Management Agent
Agen ini
bertugas meng-update dan memelihara basis pengetahuan berhubungan dengan
pembuatan keputusan untuk status proyek.
Metode yang diusulkan secara dinamis menyesuaikan penilaiannya menurut misi,
tujuan, peluang dan ancaman dari organisasi.
Metode ini dapat dibagi menjadi beberapa
tahap sebagai berikut:
·
Kustomisasi
model referensi untuk organisasi umum dengan menggunakan studi kasus
·
Penggunaan
model lapisan untuk mengenali hubungan antara lapisan arsitektur organisasi
·
Mengambil
pendekatan top-down untuk
memprioritaskan pelaksanaan berbagai komponen arsitektur organisasi dan
kegiatan terkait
·
Mengambil
pendekatan bottom-up terhadap
penilaian arsitektur organisasi
·
Perhitungan
dan kalkulasi terkait dengan analisis cost-benefit
·
Pengambilan
keputusan dan pilihan antara peningkatan atau mendesain ulang arsitektur
organisasi.
Metode yang diusulkan tidak hanya mengenali kegiatan yang berkaitan dengan
transisi dari arsitektur
organisasi, tetapi juga memprioritaskannya. Ini adalah metode top-down. Tingkat yang
dipilih adalah:
·
Objective
·
Goal
·
Function
·
Service
·
Technology
Top-down
approach prioritization
1 proyek terdiri dari satu atau lebih objective, masing-masing objective membagi nilai signifikansi yang
totalnya sama dengan 100. 1 objective
terdiri dari satu atau lebih goal, masing-masing
goal membagi nilai
signifikansi dengan setiap objective yang
totalnya sama dengan 100.
Berikut adalah contoh perhitungannya:
1 goal terdiri dari satu atau lebih fungsi, masing-masing fungsi membagi nilai signifikansi dengan setiap goal yang totalnya sama dengan 100.
Berikut adalah contoh perhitungannya:
Lakukan seterusnya untuk Services ke Functions, dan Tecnology ke Service. Semakin tinggi skor, prioritas lebih diberikan kepada komponen tersebut.
Bottom-up approach assessment
Tiga metode pengambilan keputusan yang digunakan untuk membuat pilihan antara perbaikan dan desain ulang arsitektur:
·
Statistical sampling
Metode ini menggunakan pengalaman proyek sukses sebelumnya dan pengumpulan informasi statistik dan pengambilan metode sampling
untuk menghitung ambang
perkiraan. Jika skor yang
diperoleh oleh proyek lebih
tinggi dari ambang, arsitektur perusahaan akan bermanfaat dari perbaikan. Jika tidak,
dianjurkan untuk didesain ulang.
·
Nearest neighborhood method
Metode ini menggunakan strategi "tetangga terdekat" untuk mengimpor hasil penilaian dari proyek
sukses sebelumnya ke dalam jaringan dan
akhirnya studi dan laporan pada kondisi
jaringan berdasarkan proyek interupsi poin.
·
TOPSIS method
Metode
ini
adalah metode pengambilan keputusan
multipel indikator yang bekerja berdasarkan jarak ke proyek terbaik
dan terburuk.
Tool yang digunakan
untuk mengimplementasikan metode ini terlihat
pada gambar di bawah.
Dari pembahasan sebelumnya dapat
disimpulkan bahwa penggunaan metode ini
meningkatkan kemungkinan penilaian arsitektur organisasi berdasarkan misi, tujuan, peluang, dan ancaman organisasi. Tool ini dapat
membandingkan organisasi yang berbeda secara kuantitatif dan menurut tingkat mereka memenuhi tujuan khusus dan sasaran. Penggunaan metode ini memungkinkan
menilai arsitektur enterprise dan membuat keputusan yang lebih akurat tentang perbaikan atau desain ulang dari arsitektur organisasi. Hal ini mengurangi
biaya, risiko dan waktu dalam kegiatan pengembangan
atau perbaikan.










No comments:
Post a Comment